Skip to main content

About A Bird

Songs:
"Free As A Bird" - The Beatles
"Blackbird" - The Beatles
"Falling Slowly" - Lee Dewyze and Crystal Bowersox, written by Glen Hansard



Free.. as a bird
it's the next best thing to be
like a homing bird I fly
like a bird on wings..

"Free As A Bird" - The Beatles
*Menulis ini sambil merasai kupu-kupu menggelitiki perut sayaaaaa..!*

Gini deh tiap kali abis bertelur album. Perasaan campur aduk semacam es campur disiram madu liar organik. Segar menyehatkan!

Banyak hal yang bikin saya jumping over the moon bikin album ini. 

Pertama: lirikanmu. Eh, salaaaah.. itu donk lagunya Rafika Duri jaman almarhum Ayah saya masih mudaaaa! Ulang!

Pertama: dia berbentuk burung. Hihihi.
Saya gak pernah bikin album yang bentuknya spesifik kayak gini. Ostosmastis si burung jadi the hero of the dish donk *Masterchef kali, cuy*. Maksudnya, saya gak bisa ngaco seenak puser seperti biasa. Kalo albumnya berbentuk burung, mosyok saya tempelin gambar petinju sih? Which by the by, jadi ngingetin saya sama chipboard frame tema sport yang belom  saya pake. Bakal nanti nyecrap foto-foto waktu sekeluarga nonton bola Indonesia lawan Malaysia. Sembari gak ada yang nanya. *Eh, bentar, lagian ngapain nempelin gambar petinju?* *juling*

Saya beli chipboard album ini tahun lalu dari Patrice, di suatu sore ketika langit berpelangi ikal, waktu janjian sama Ria buat ngintip album Journeynya. Kalo gak salah Patrice belinya di Malaysia, sebab harga-harganya masih keliatan dalam RM. Saya juga beli bingkai mini terbuat dari tembaga tipis dari Patrice dan lem Beacon nan sakti itu dari Isur. Ngomong-ngomong, kenapa ya cuma saya yang manggil dia Patrice, sesuai nama panjangnya Patricia. Orang-orang lain manggilnya, Si, Si.. Maksudnya PatriSia, gitu? Kan Patricia pake c, gak pake s. *terus aja analisa'*

Kedua: dia kecil.
Waktu pertama kali.. kujatuh hati.. *Rafika Duri lagi* pegang-pegang chipboard ini, sumpah saya gak tau dan gak ada bayangan bakal diapain. Yang ada di pikiran saya cuma satu: kalo saya jadiin album, gampang bawanya ke mana-mana. Kerana saya itu suka bermasalah sama album-album gede: gak bisa dibawa-bawa tanpa repot. Berat, bulky. Apalagi album A Week In The Life yang setebel tembok itu. Pedahal saya seneng banget mamerin album-album saya ke orang-orang, hahaha. Ato untuk saya buka-buka di jalan, terutama pas lamunan ilang gegara metromini lewat nyemburin asap knalpot.

Nah, kayak gantungan yang saya bikin buat tiga sahabat saya tempo hari dan saya gantung di spion mas Fordy, seneng banget tiap liat itu sepanjang nyetir, langsung inget mereka dan momen-momen indah nan lucu menggemaskan yang udah kita alamin. Secara ngumpulin mereka susahnya semacam ngegiring gundu pake sapu. Lagian orang lain juga bisa nikmatinnya kan? Kalu albumnya gede, beuhh.. nggrapyak aja gitu di rumah. Pedahal justru lagi di perjalanan itu frekuensi galau biasanya tinggi, butuh dihibur sama yang indah-indah dan membelai-belai hati, hahaha.

Ketiga: I got to play with the coarse texture gel yang udah lama nunggu saya perbudak.
And I loooove the result, heart it so much!! Very sandy, berasa semacam efek laut dan pantai banget *hlah, katanya burung?*. Err.. di pantai kan ada burung. *merem*

Keempaaat... bentaaaar, ganti lagu dulu. *ceklek*

blackbird singing in the dead of night
take these broken wings and learn to fly
all your life, you were only waiting
for this moment to arise..

"Blackbird" - The Beatles

Keempat: album ini saya kerjakan di sela-sela waktu saya bermain dengan hal-hal lain. 
Kelar sorting foto, atau abis manggang pesenan kukis, sambil nonton TV.. yang ini bo'ong denk. Yang bener, sambil nyetel Falling Slowly sekenceng-kenceng topan badai Kapten Haddock!

Gak ada waktu khusus yang saya spare untuk scrapping si birdie ini. Setiap hari berakhir, nyempluk di sofa, pasang lagu keramat itu, turn up the volume sampe tulisan Are you nuts? *sungguh Black Or White sekali*. Yaaaah.. sampe kira-kira atep paviliun menjelang jebol deh. Tarik toolbox berlidah Jagger, dan nyecraplah saya dengan nikmat dan egoisnya. Santai, gak ada target, gak ambisius. Gak mikir apa-apa selain nyanyi ngikutin Mama Sox sambil ngebayangin narik-narik rambut gimbalnya yang super cool.

It's the best way to scrap, really. Totally.

Kelima: Beatles related theme *grin*
Well, almost semua album saya *jiah, gaya.. kayak banyak aja*, naturally song related, or at least ada lirik lagu di dalamnya. Semata karena di kepala saya constantly selalu senantiasa ada lagu yang mengalun bernyanyi tak tahu diri. Tapi yang ini jadi ekstra spesial pake telor kerana begitu masuk tahap journalling, jeder!! Falling Slowly sontak tahu berontak berganti Free As A Bird, Black Bird dan Real Love. *eh, eh, kenapa Real Love ikut-ikutan?*

Saat itulah. Ketika tangisan gitar George Harrison menteong-teongi ruangan, saya memutuskan bahwa lagu ini gak butuh foto! Bo'ong lagi denk. Saya aja males milih-milih foto, hahaha. Pedahal kalo saya tarokin foto saya yang lagi ngukur langit Yogya  dan main-main di Candi Boko tempo hari, pas banget! Nah loh, baru kepikir sekarang! *panik* *telpon pak lurah*

Keenam: I got to use sponge brush yang tempo hari saya beli instinctively di toko buku. Aha! Ternyata smudging pake sponge brush ini sedep bener! Hasilnya lebih cakeb dibanding langsung ngegosokin StazOn ke pinggiran kertas. Aaaaah, syedep, syedep..

Ketujuh:.. udah abiiiiis, gak ada yang ketujuh! Ketujuh, dusta!

Yaaaah, saya bisa aja sih listing sampe panjang banget tentang hal-hal yang saya suka dari pengerjaan album mungil namun rame ini. Sampe 60 juga bisa kayak buku 60 Resep Anti Gagalnya mbak Fatmah *bo'ong lagi. gak bisa.* Termasuk lirik lagu Blackbird dan Free As A Bird yang saya tempelin ke sekujur badannya, dan vellum yang saya bentuk jadi kayak gulungan parchment. Aih, dongeng sekali.

Tapi sebaiknya saya berhenti di sini, sebelom yang baca terbosen-bosen terus bunuh diri pake tusuk gigi *yak ampun, demi apa!*.

Lagian sebetulnya, album ini udah lama kelarnya, kurang lebih sebulan lalu. Post ini saya buat sebab saya lagi terkangen-kangen setengah idup sama mahluk kunang-kunang yang cemerlang itu. Sembari gak tau mau dilempar kemana plintiran rindu saya biar agak reda dan gak bikin gelas teh saya bergetar hebat terguncang-guncang semacam dinding rumah Sunan Kalijaga *hueh?*.

Enjoy the album, folks. Now I'm wrecking my brain on gimana caranya nyelipin satu, umm.. dua, foto itu! *Warning: the danger of what-if!* Riaaaaaaaa, help!

Love, Riana

falling slowly, eyes that know me,
and I can't go back
moods that take me and erase me,
and I'm painted black

falling slowly, sing your melody
I'll sing it loud

"Falling Slowly"
Lee Dewyze and Crystal Bowersox
written by Glen Hansard























Comments

  1. yang ke 7 : menerbangkan si burung menghampiri si pelangi ikal mungkin mba'Ri...?? ;D

    uuh pita birunya lucu banget.... 'simple thing" tapi gag sesimple buat albumnya kayanya....hehe,

    ReplyDelete
  2. iiiiiggggghhhh..pengen diculik banget deh ini burung..hahhaha..
    kereeeeeeeeeen sekeren2nya....coarse texture yah? jadi inget kalo gw juga punyaaa..*langsung mengembara apa yang bisa di texture in sekarang..hihihi

    ReplyDelete
  3. Rianaaaa....rasanya aku pengen peluk kamu sekarang juga...(*terisak saking terharu karena bagusnya..)

    ReplyDelete
  4. @ all: thank youuuu.. *atep jebol lagi*
    @ Isur: iya coarse texture, asik loh Sur.. cakeeep jadinya, artistik banget :)

    ReplyDelete
  5. Kalo belum comment di sini belum sedep. :))

    "Let your bird soar and fly high, Na......" *jebolin atep2nya.........

    And be kind, set aside the 'what if' for another album, just to keep our mind in place and our heart at ease. *keplak

    *peluuuuuuuk

    ReplyDelete
  6. @ Ria: Riiii.. sungguh dirimu sangat mengerti kejamnya "what if" itu.. huhuhu.. *peluk rapet*

    ReplyDelete
  7. Keren artikelnya ^^ Tolong kunjungi dan comment balik blog saya http://marcuel.blogspot.com

    ReplyDelete
  8. Mbak Riana, gara2 baca post ini jatuh cinta sama lagunya Free As A Bird. Cihui lah pokoknya.Matur nuwun terima kasih ya...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…

Taman Nasional Karimun Jawa: How Can I Leave This Place?

Saya sudah berhutang terlalu banyak catatan perjalanan. I realize the beast that holds me back adalah karena saya sendiri sering terbosan-bosan baca catatan perjalanan. Yang langsung saya baca adalah data teknisnya. Lalu seorang teman bilang, "Kalo gitu baca aja Lonely Planet." Lah, memang! :)Bukan cuma itu. Menuliskannya kembali memaksa saya untuk menghidupkan lagi semua ingatan akan segalanya. Dan itu kerap kali bikin seluruh badan mengilu ingin kembali dan membanjiri wajah saya dengan air mata. Jangankan menulisnya. Baru sampai di bus pulang atau di Damri dari airport saja saya sudah mewek tersungguk-sungguk sampe kondektur Damri salting sendiri. In the case of Karimun Jawa, saya bahkan sudah nangis di perahu yang membawa kami menjauhi P.Menjangan Kecil di hari terakhir! Bukankah keterlaluan?