Skip to main content

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Picture by GettyImages
Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Mereka ada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasanmu? *lap air mata pake ujung shawl*

Puncaknya adalah ketika beras yang saya simpan dalam wadah vacuum box terbuat dari hard plastic tuebeeeel banget, berhasil ditembus para prajurit berseragam hitam ini! Mereka berhasil melubangi wadah dengan lubang yang sangat halus tapi buanyak, merintis jalan sepanjang dinding tebalnya, and finally landing di lumbung padi saya! Oh, teganya kamu! Sekaligus hebat sekali sebenernya! *jadi gimana sih? cinta apa benci?*


Sambil mengatur napas yang mendadak sesak karena emosi, Kemut pun saya pesan. Walau hati saya sebelah menangis. "Maafkan saya. Tapi kamu sih mengkhianati saya duluan. Hajat hidup saya kamu ganggu, maka keadilan harus ditegakkan." *pasang iket kepala karate kid*

Begitu pesanan Kemut datang, langsung saya beraksi semacam Dexter versi racun, lengkap dengan tarikan alis dan senyumnya yang misterius. Satu gundukan kecil di atas meja, satu di dekat kompor, satu lagi di samping dispenser, dekat beras yang akhirnya saya biarkan dalam kemasan sealable-nya. Dalam sekejap, gundukan racun di atas meja dan dekat kompor habis mereka gotong ke sarang. Bersih! Aaaahahaha,.. hiks *edisi hati terbelah*. But umm.. racun di samping dispenser gak disentuh sama sekali. Utuh teguh kukuh. Well, ok. Saya berusaha gak mengadili mereka, "Why??? Why didn't you eat it???" ataupun ngotot nyodor-nyodorin sisa racun ke mulut mereka pake pinset.

Keesokan pagi, dapur dan meja makan bersih dari semut! Horeeeee,.. hiks. Saya berusaha menghilangkan bayangan terjadinya massacre di sarang mereka. Tubuh-tubuh semut bergelimpangan mati. Anak kehilangan orang tua, istri kehilangan suami, ibu-ibu kehilangan tukang sayur. Ah, tidak! They got what they deserve! Mereka meminum air putih saya, menerobos tutup botol dan plastik, meretas jalan ke lumbung padi saya!

Keterangan di botol Kemut mengatakan bahwa racun ini akan bekerja selama 3-6 bulan. Artinya, dalam jangka waktu tersebut semut belum akan membentuk koloni baru lagi. Ah, saya bisa lega selama beberapa waktu.

I was wrong.

Dua hari kemudian, saya bangun pagi menemukan mereka kembali, bermain, berlari berputar menari!! *jambaaaaak* Berusaha tenang. Saya letakkan lagi sedikit racun di atas meja, lalu mulai menunggu. Beberapa menit lewat, beberapa semut lewat, tidak satupun mengendus umpan saya! Saya tinggalkan mereka untuk ritual pagi hari. Setengah jam kemudian, racun utuh tak disentuh! Semut-semut yang lewat, boro-boro mengendus dan mengangkut, mereka bahkan buang muka lalu lari terbirit-birit. Sungguh! Beberapa teman memang mengatakan bahwa racun ini tidak mempan terhadap semut-semut hitam besar dan semut-semut yang keciiiiil sekali. Tapi ini kan semut yang kemarin! Semut yang sempat jadi sahabat saya, yang kemarin melalap habis dua gundukan racun lezat dari saya!

Crazy world. Hewan-hewan semakin cerdas, makin tahan racun, mungkin dalam sebentar mereka akan mengambil alih pemerintahan dunia ini. *atau memang lebih baik begitu?*

Seriously, what happened to the universe???


Comments

  1. hihihihi sama dengan yg terjadi di dapurku mba.... dengan berlinang airmata akhirnya si mr.baygon dikerahkan, bikin para barisan seragam itu pada semaput... hiks apa daya ku harus mampu melawan....

    ReplyDelete
  2. Semut oh semut.... Udah cob a menggambar pake kapur ajaib b***s? Lumayan berhasi... Ciptakan garis demarkasi antara mereka... *kadang2 aku suka agak kejam pada mereka, kulingkari satu satu Dan mereka mabuk kebingungan....oh...sorry...*

    ReplyDelete
  3. @ mbak Hernik: udaaaaah, tapi kapur itu cepet hilang khasiatnya. dalam beberapa hari si semut sudah berbaris di atas marka dengan riang gembiranya, huhuhu.. lutu tekali sih sebenernya *loh*

    ReplyDelete
  4. Mbak Riana..... baru ketemu ini blog and cekikikan sendiri sampai dipelototin Bos...(mudah-mudahan gak dicabut fasilitas inetnya, he3x)....ketemu lirik lagunya Indra lesmana jaman beheula.....
    Lv u Mbak Riana.......

    ReplyDelete
  5. @ Ratna: hah? lirik lagu indra lesmana? yang mana? di mana?
    hihihi, bossnya suruh baca cerita si semut aja, hahaha...
    Thank you for coming by, Ratna *hug*

    ReplyDelete
  6. Wkwk sama mbak.. saya udh kehabisan cara gimana ngehindarin makanan dari semut
    Dulu malah lebih parah, dia menjarah lemari pakaian dan ngelubangin baju.. seprei saya jg bolong2 kecil gara2 semut..
    Sampe2 sy berdoa biar semut punah di bumi ini.. huhu

    ReplyDelete
  7. aku malahan seneng baca ceritanya, qiqiqiqiqi.iiiq, mbak buat novel pendek atw cerpen komedi tentang hewan aja di blog updatenya 1 minggu sekali, pasti deh banyak penggemarnya, like like bingits aku, ayo kamu pasti bisa, hahahah ciiaaa..t dziii..g

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

Kembali Ke Titik Nol

Song"Sajadah Panjang" - Bimbo

"..pertanyaannya adalah, di manakah kita? Ada di mana kita dalam bangunan perjuangan menegakkan keadilan di bumi Allah? Apakah jadi tiangnya? Sekrupnya? Atau sekedar serpih debunya? Bahkan menjadi debunya masih jauh lebih baik ketimbang hanya diam dan menonton.." (Tantular Wirta Sancaya, my dear brother)
...Dalam linangan
air mata
saya menyadari
satuhal... Belasan tahun lalu, kakak saya nomor empat mengatakan ini, ketika gerakan reformasi baru mulai menggeliat. Kalimat ini terngiang kembali di telinga saya, tak berhenti, dalam dua bulan terakhir, ketika saya berjuang menyelesaikan terjemahan sebuah dokumen politik setebal 601 halaman.

Selama ini, saya selalu beranggapan bahwa dalam berjuang di jalan Allah, berjihad, setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Memiliki monumen pahalanya masing-masing. Dan itu tidak mesti bersinggungan langsung dengan label agama. Ketika kita mendedikasikan hidup untuk menyusuri sajadah panjang membentan…