Skip to main content

Sebuah Catatan



Labbaik yaa Gaza..
Labbaik yaa Gaza..
Kupenuhi panggilanmu, yaa Gaza..

Berikan hartamu, jiwamu, doamu.

Jihad harta untuk bumi syam via:
http://www.spiritofaqsa.org
https://www.facebook.com/komitenasionaluntukrakyatpalestina
http://act.or.id
Www.sahabatalaqsha.com
Www.sahabatsuriah.com

A note: 

Ketahuilah, semua yang saya sampaikan bukan ditujukan untuk kamu yang sudah memiliki keyakinanmu dan keberpihakanmu sendiri yang berbeda dengan saya tentang Islam, Palestina, apapun. Saya tidak berminat mengubah pilihan dan pendapatmu-- apalagi menyerangmu. Saya menyampaikan untuk mereka yang mencari info, berita, kekuatan, genggaman tangan. Kami saling mengisi dan menguatkan.

Jika kamu terganggu, bersyukurlah, dan saya pun bersyukur. Karena berarti kamu masih manusia yang punya hati nurani yang belum membatu.

Di atas segalanya, saya tetap mencintaimu karena Allah. Karena Allah lah yang menggenggam hatimu dan hatiku.

Namun ketahuilah saya tidak akan diam, sebagaimana kamu pun tidak akan diam jika kaummu dianiaya. Tidak mungkin saya diam. Karena diam berarti saya berhenti jadi orang Islam. Dan itu adalah sebesar-besarnya adzab.

Pejaten, 1 Agustus 2014

#saveGaza #savePalestine #Islam #Gazaunderattack #prayforGaza

Comments

Popular posts from this blog

Kembali Ke Titik Nol

Song"Sajadah Panjang" - Bimbo

"..pertanyaannya adalah, di manakah kita? Ada di mana kita dalam bangunan perjuangan menegakkan keadilan di bumi Allah? Apakah jadi tiangnya? Sekrupnya? Atau sekedar serpih debunya? Bahkan menjadi debunya masih jauh lebih baik ketimbang hanya diam dan menonton.." (Tantular Wirta Sancaya, my dear brother)
...Dalam linangan
air mata
saya menyadari
satuhal... Belasan tahun lalu, kakak saya nomor empat mengatakan ini, ketika gerakan reformasi baru mulai menggeliat. Kalimat ini terngiang kembali di telinga saya, tak berhenti, dalam dua bulan terakhir, ketika saya berjuang menyelesaikan terjemahan sebuah dokumen politik setebal 601 halaman.

Selama ini, saya selalu beranggapan bahwa dalam berjuang di jalan Allah, berjihad, setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Memiliki monumen pahalanya masing-masing. Dan itu tidak mesti bersinggungan langsung dengan label agama. Ketika kita mendedikasikan hidup untuk menyusuri sajadah panjang membentan…

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

Ihwal Sepotong Kain (1)

Untuk pertama kalinya merasakan nikmatnya berihklas. Bukan ikhlas yang otomatis. Yang ini lain. Yang ini tidak otomatis. Tapi jauh lebih melegakan.

Untuk pertama kalinya naik angkot terasa nikmat. Peluh bercucuran terasa bermanfaat.

Seorang teman bertanya, kenapa hal ihwal sepotong kain ini gak di-share di blog. Seorang teman yang lain sangat ingin tahu bagaimana prosesnya. Kakak saya sendiri berkomentar cukup mengejutkan,"Are you dying or something?"

Lucu sekali kakak saya ini. Semakin saya jadi diri sendiri, semakin saya mengerti bahwa ia tidak mengenal saya. Subhanallah. Betapa banyak wajah pada setiap hal kecil di alam semesta ini. Tiap-tiap manusia hanya melihat sedikit hal saja, dari sebuah benda yang sama.

Saya sendiri tidak punya kata-kata untuk menjelaskan. Bagaimana saya harus menjelaskan? Bahwa saya adalah daging yang penuh dosa? Yang akan meninggal dengan segera? Bahwa saya hanya ingin berkumpul kembali dengan kedua orangtua, suami dan handai taulan, kelak di surga? …