Wakatobi 009
"Selamat datang, di bumi surga nyata bawah laut, di jantung segitiga karang dunia."

- the writing on the gate of Wanci seaport,
Wangi-Wangi island,
Wakatobi, Southeast Sulawesi

Masih lekat di kepala ketika sore itu, di sebuah bioskop di pinggir kota, saya terpana menyaksikan film The Mirror Never Lies. Bukan karena bagusnya film buatan putri Garin Nugroho tersebut. Tapi karena indahnya setting film bagai bukan di bumi! Wakatobi. Wakatobi. Nama populer dari kepulauan Tukang Besi ini sontak terngiang senantiasa, tak mampu lepas dari pelupuk mata. Inilah surga nyata bawah laut di perairan Sulawesi Tenggara. Pusat segitiga karang dunia seluas 1,39 juta ha dengan 750 spesies karang dan 942 spesies ikan dengan spektrum warna terluas bagai permata tak tersentuh manusia. Penduduk yang berumah di atas laut, hilir mudik melalui laut, enggan meninggalkan laut sebagai sumber dan napas kehidupannya.

"Laut adalah cermin besarku," demikian narasi Pakis menutup film tersebut.

Ke sanalah saya menuju, dengan menumpang kapal kayu dari Kendari, di suatu pagi di akhir September 2011.


Kendari

A pretty place. When I was about to land, I looked down outside the plane window and was amazed by banyaknya peopohonan covering the land! Literally, trees, trees, trees everywhere. Riri picked me up at Haluoleo airport, a small airport named after a king of Konawe Kingdom yang menjadi figur pemersatu Sulawesi Tenggara karena pernah memimpin 5 kerajaan besar dalam waktu bersamaan: kerajaan Buton, Muna, Konawe, Kabaena dan Kaledupa. Haluoleo literally means "delapan matahari". Beautiful, isn't it? Love the way it sounds. Love the meaning of it.

When we roamed the town, syakwasangka saya akan pepohonan itu terbukti benar. Jalanan kota penuh pepohonan rindang di kiri-kanan, jalan berbukit-bukit, jalanan melintasi sungai yang hanya sepelemparan ranting dari muara, pantai, rumah walikota di puncak bukit, sungguh kota yang sangat cantik!


I met with Pak Meti, a Kaledupa native, his wife and their three children. Wonderful people. Pak Meti was an angel who let me stay at his house while I was in Kendari, lent me snorkel set for free, and invited me to stay at his house in Kaledupa next chance I go back to Wakatobi. I must have done something good in the past to deserve knowing him.

In Kendari, people address someone by his first child's name, if he is married. So I called him Bapak Feni and his wife Mama Feni, as their firstborn is Feni.

Riri is Pak Onte's wife who I knew through NCC. Pak Onte is one of the leaders of Perkumpulan Telapak. I met him when Mbak Fat and NCC and a few other communities, including Pak Onte and his community, received awards from SWA. When he spoke about Perkumpulan Telapak and what they do to make the world a better place, we couldn't help but admiring his integrity, persistence and mostly, his big heart, big work, big commitment to make differences and change the life of thousands of forest farmers of Kendari. He became our inspiration right at that very moment. Riri then took a class at NCC and we felt honored to have known her and her husband. She introduced me to Pak Meti, Pak Onte's best friend, then took me to the office of Perkumpulan Telapak where they were conducting broadcasting workshop for their new community radio station. She introduced me to people of the organization and drove me around Kendari. She was truly an Allah's gift to me.

Pak Meti or Bapak Feni
Pak Onte dan Pak Meti adalah salah dua dari banyak orang baik yang mendedikasikan hidupnya untuk membuat hidup petani dan nelayan menjadi lebih baik. Ngobrol dengan beliau bikin betah. Inspiring dan membangkitkan harapan. Keprihatinannya akan banyaknya resort yang justru dimiliki oleh orang asing. Cita-citanya membangun fasilitas wisata yang dimiliki bersama oleh rakyat. Cerita perjuangan Forkani, Forum Kaledupa Toudani, kumpulan komunitas petani dan nelayan Kaledupa dalam melindungi alam tempat mereka menggantungkan nafkah.

'Ma Fen (short for Mama Feni) grilled fishes for dinner, sambel tomat iris and sayur bayam. Heaven! Breakfast was fish again. And according to her, so will lunch be :). Fishes for every meal! I know it is something a seafood girl *pointing at myself* really agrees with! :D

KM Aksar Saputra 03, Kendari - Wanci


Kapasitas 200 orang, mostly local people on board. Tiket 130 ribu, plus tiket masuk pelabuhan dan sumbangan, giving it total 133.500 rupiah, sudah termasuk nasi bungkus dan aqua gelas. Di kapal ini, kita tidak diberi kursi, tapi tempat tidur berupa matras. Tidak ada jajaran kursi, melainkan dipan 2 tingkat penuh matras berjejer dengan nomor di tiap sisi matras menandakan "kavling" kita. Nyaman untuk meletakkan carrier dan, tentu saja,... tidur.

WCnya bersih dan gak bau, lebih bersih dari WC di KMP Muria waktu saya nyebrang dari Jepara ke Karimunjawa. Tapi airnya air laut. Mantep kan?

Ada kamar-kamar di dek atas dan tengah yang bisa disewa dengan tambahan 50 ribu rupiah. Ada musholla yang layak dan di dekat televisi ada beberapa colokan listrik yang bebas dipakai penumpang.

Sebelum berangkat, ada banyak penjual makanan yang bisa kita beli kalo merasa gak puas dengan nasi kucing yang dibagikan. Saya sih puas :D.

Kamar-kamar di dek atas
Di kapal sebelum berangkat, Bapak Feni mengenalkan saya dengan dua rekannya, Pak Yogi dan Pak Darsima, yang kebetulan menyeberang juga dan "menitipkan" saya kepada mereka. How cool is that man!!!

Udara segar, laut teduh *istilah masyarakat Indonesia Timur untuk mengatakan "ombak tenang"*, pulau Buton berhutan super rimbun breathtakingly terpampang sepanjang pelayaran. Dua belas jam pelayaran tidak ada artinya dan tidak terasa!

The Stunning Button Island 3
Where do you think this is? China? The Amazon?
This, my friend, is Buton Island, Southeast Sulawesi, Indonesia!
Menghabiskan siang dengan menulis perjalanan Karimun Jawa dan gegoleran di dipan. Menjelang sore kapal singgah sebentar di Pelabuhan Wade Buri. Saya memanfaatkan kesempatan itu untuk nonton kesibukan warga lokal menaik-turunkan barang-barang mereka. Mulai dari motor hingga hasil bumi. Pelabuhannya bersih dengan laut yang bening. Kapal melanjutkan pelayaran setelah singgah kurang lebih 1 jam.

Wakatobi 006
Pelabuhan Wade Buri
Senja datang dan saya nangkring di dek depan bersama beberapa bapak-bapak penduduk lokal. Obrolan tentang Sail Wakatobi yang baru saja selesai, bulan Syawal yang penuh acara tradisi, tentang indahnya Wakatobi, laut Banda yang kami layari, pantai One Moba'a (artinya "hamparan emas yang luas"), dan kurangnya perhatian domestik kepada kelestarian laut Indonesia dibanding bangsa lain. Sambil makan kurma dan duduk mencangklong di atas papan kayu yang sebetulnya adalah footstep kapal yang disandarkan. Menikmati obrolan dan langit dramatis Indonesia Timur menjelang senja.

Wakatobi 010
Langit dramatis Indonesia Timur jelang silam matahari
Saya gak ketemu backpacker lain. Tiap penduduk lokal yang menyapa saya selalu menanyakan hal yang sama, "Sedang penelitian?" So I figured tidak banyak orang yang datang di luar musim liburan kecuali untuk penelitian, atau kebanyakan tidak ada yang menumpang kapal kayu, dan Wakatobi memang sungguh surga untuk para peneliti bawah laut.

Kapal sandar kurang lebih pukul 8 malam. Pak Darsima mengantar saya turun dan memanggilkan ojek. Sebelumnya Pak Meti bilang bahwa ongkos ojek ke penginapan terdekat 10 ribu rupiah saja. Tapi Pak Darsima bilang untuk kasih 20 ribu, I didn't complain. Meluncur di atas ojek, saya disambut gerbang pelabuhan Wanci dengan tulisan yang langsung menggetarkan hati dan snorkel saya:

"Selamat datang, di bumi surga nyata bawah laut, di jantung segitiga karang dunia."

I'm here!!!


to be continued..