Skip to main content

Taman Nasional Wakatobi - More Than Coral Reefs (Bag. 3)

Lumba-Lumba di Perairan Pulau Kapota

Pagi hari, adalah waktu di mana hewan-hewan keluar mencari makan. Saya ingat sebuah pelayaran satu pekan melintasi Laut Halmahera hingga ke Nuu Waar, pagi hari usai subuh di mana yang lain terkantuk-kantuk di kabin, saya pasti ada di atap kapal, menikmati laut lepas yang ramai oleh elang, camar, bangau laut, juga.. lumba-lumba!

Subuh mentas di Wanci, berkemas, dalam waktu singkat kami sudah di perairan Pulau Kapota, di selatan P. Wangi-Wangi. Dalam keremangan subuh, seketika saya menyadari, betapa ramainya perairan ini sudah! Dalam sekejap kami sudah bergabung dengan belasan nelayan yang juga turut serta dalam keriaan mencari makan bersama para hewan, memanen rejeki Allah yang disebarkanNya di segenap penjuru alam, untuk semua mahlukNya tanpa terkecuali. Allahurrahman.

Di perairan Pulau Kapota yang luas, dalam remang sapuan lembut matahari jelang syuruq, tampak nelayan bertebaran menjala ikan. Masya Allah, what a view.

Wakatobi 026

By Indhira Kinong
Dan.. hop! Satu lumba-lumba melompati mereka! Lalu satu di sisinya, lalu satu di sisi lain, satu lagi lebih ke tengah, .. satu lagi, ..satu lagi, ..lompat-melompat di sekeliling mereka seperti ikut bergembira menyambut para pencari rejeki Allah. Di sinilah saya baru mengetahui bahwa Allah menciptakan lumba-lumba sudah built-in dengan kemampuan melompat dalam aneka gaya tanpa harus diajari pelatih manapun. Lompatan normal melengkung, lurus menukik, melintir spiral, lompat terbalik, salto, mengibas ekor, ..aaah, mereka memang sungguh sangat senang melompat! Makin kami bersorak kesenangan, mereka makin atraktif! Satu lumba-lumba, a big one, ultimately melompati atap boat kami dalam satu lompatan yang sangat tinggi. Bagaimana mereka mengukur tinggi kapal lalu melompat sedemikian akurat? Masya Allah. Afala ta'qilun (tidakkah kamu berpikir)? Masihkah kamu bilang Tuhan tidak ada?

By Indhira Kinong
Memotret lumba-lumba was a whole different story. Mereka bergerak demikian cepat, tiba-tiba, tidak terduga muncul dan silamnya. Dalam tiap perjalanan memang selalu ada dilema antara menikmati atau memotret. Untuk mengabadikan mereka, you need to sharpen your high speed and high burst shooting. Di pagi dengan mendung tipis menggantung seperti yang kami alami, dengan kamera entry level tua renta, mendapatkan foto ini sudah prestasi :D. Indhi kayaknya berhasil dapat lebih cakeb sih, haha.. But well, semakin hari saya semakin gak terlalu peduli sama foto, mwaaa.. *jangan bubar yaaa*

Wakatobi 027

Wakatobi 076

Matahari semakin tinggi, kami harus segera menyudahi kencan bersama para nelayan dan mamalia laut nan ramah dan lucu ini. *Kelak saya ketemu yang guedeeee banget di laut Derawan*

Dadah-dadah donk ke para bapak nelayan yang sejak tadi nyengir aja ngeliatin kita yang norak parah.   Lalu segera menuju pelabuhan kecil tempat kapal umum reguler datang dan pergi membawa penduduk dari pulau ke pulau. Ke Pulau Hoga we were to sail, tempat fasilitas Project Wallacea dibangun dan dilakoni sejak bertahun lalu.

..to be continued.

Next: 

Operation Wallacea, Laboratorium Kelautan di Jantung Segitiga Karang Dunia

Comments

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…

Taman Nasional Karimun Jawa: How Can I Leave This Place?

Saya sudah berhutang terlalu banyak catatan perjalanan. I realize the beast that holds me back adalah karena saya sendiri sering terbosan-bosan baca catatan perjalanan. Yang langsung saya baca adalah data teknisnya. Lalu seorang teman bilang, "Kalo gitu baca aja Lonely Planet." Lah, memang! :)Bukan cuma itu. Menuliskannya kembali memaksa saya untuk menghidupkan lagi semua ingatan akan segalanya. Dan itu kerap kali bikin seluruh badan mengilu ingin kembali dan membanjiri wajah saya dengan air mata. Jangankan menulisnya. Baru sampai di bus pulang atau di Damri dari airport saja saya sudah mewek tersungguk-sungguk sampe kondektur Damri salting sendiri. In the case of Karimun Jawa, saya bahkan sudah nangis di perahu yang membawa kami menjauhi P.Menjangan Kecil di hari terakhir! Bukankah keterlaluan?