Skip to main content

Laboratorium Kelautan di Jantung Segitiga Karang Dunia (Taman Nasional Wakatobi - More Than Coral Reef Bag. 4)

Dari perairan P. Kapota, kami menuju ke sebuah dermaga kecil di P. Wangi-Wangi tempat kapal-kapal reguler bertolak mengangkut penumpang dari pulau ke pulau di Kepulauan Tukang Besi ini. Selama menunggu kapal yang akan ke P. Kaledupa melalui P. Hoga, kami duduk-duduk di dermaga, ada warung kopi tepat di atas laut.

Kami mengamati kesibukan penduduk lokal datang dan pergi. Tidak hanya yang naik kapal besar, tapi perahu-perahu kecil dan besar yang hilir mudik, didayung oleh anak kecil, orang dewasa, tua, muda, semuanya dengan tangkas dan effortless hilir mudik dari rumah ke rumah, dari dermaga ke tengah laut, bermain-main. Effortless, karena bahkan tanpa dayung pun jadi! Seorang pemuda dengan santai dan tangkas mendayung perahunya dengan kakinya! Kayak main otopad ajaaaa...

Wakatobi 028




Mengagumi kejernihan laut di pelabuhan kecil ini, rombongan ikan-ikan terlihat dari teras warung kopi tempat kami duduk mencangklong. Sebuah pagi yang sangat dinikmati semua backpacker. Sarapan di warung kopi bersama penduduk lokal, menyimak obrolan dan ngobrol dengan mereka, laut jernih indah di bawah kaki, langit biru total di hadapan mata,.. sebuah pagi di antara banyak pagi yang membuat kami tak pernah mampu membiarkan carrier teronggok lama-lama di lemari. Pagi seperti ini, selalu memanggil tak berhenti.





هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kalian, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kalian dibangkitkan.
(Q.S. Al Mulk 67:15)

Operation Wallacea

Kapal datang, kami naik dan bertolak menuju P. Hoga. Kapal reguler ini berkeliling ke seluruh pulau besar WaKaToBi dan singgah di pulau-pulau kecil sekitarnya, termasuk P. Hoga. Seingat saya ongkos yang kami bayarkan sekitar 15-25 ribu rupiah per orang karena jarak ke P. Hoga dekat dari P. Wangi-Wangi. Kalau tidak salah ke P. Binongko yang terjauh dari P. Wangi-Wangi ongkosnya sekitar 100-150 ribu.

Di P. Hoga ini terdapat fasilitas Operation Wallacea, sebuah organisasi yang meneruskan jejak peneliti Alfred Russel Wallace, seorang ahli biologi, geografi dan antropologi berkebangsaan Inggris yang namanya lebih kita kenal dalam istilah "Sabuk Wallace", sebuah area di kawasan tengah Indonesia di mana Pak Wallace melakukan penelitian keragaman mahluk hidup dan penyebaran geografisnya. Operation Wallacea saat ini melakukan riset biologi dan manajemen konservasi di tempat-tempat terpencil di dunia, yang diikuti oleh mahasiswa, peneliti dan professor dari berbagai bangsa. Waktu kami mendarat, para peneliti lagi keluar diving semua, laboratoriumnya dikunci dan suasana sepi. Tapi justru bikin kami bebas seliweran dan ngintip-ngintip ke dalam lab, hihihi..

Laboratoriumnya gedeeeee.. iiih, bikin iri dan berpanjang angan kenapa gak kuliah kelautan or biologi or anything yang leading to being scientist as a job. *e gak boleh gitu ya* Di sekitar lab ada pondok-pondok kayu tempat tinggal para peneliti, yang teras-terasnya menghadap laut semuaaaaa..

Mungkin karena terpana, saya malah gak motret bangunan lab ini. Dan cari di internet pun susah. Akhirnya dapet juga dari   sini. Nah, labnya itu adalah lantai bawah, yang ada plang di atasnya. Bangunan ini besar dan panjaaang hingga belakang. Di lantai atas ada meja-meja dan kursi-kursi tempat para peneliti duduk-duduk berdiskusi.

Wakatobi 031

Wakatobi 032

Wakatobi 033
Ini Titi. Indhi kemana ya?

Salah satu pondok kayu untuk para peneliti itu. Huh.

Di pondok penyimpanan alat diving ada lambang PADI, yang menandakan di sini juga dilakukan sertifikasi selam di bawah lisensi PADI. Usai keliling ke pondok-pondok, ngintip-ngintip lab dan ngiriin para peneliti, kami ke sini nyari kali-kali ada divemaster yang tersisa untuk bisa membawa kami diving. Berhubung gak ada, jadinya kita kepo-in peralatan diving mereka, haha.. Apparently mereka bikin beberapa peralatan sendiri yang disesuaikan dengan penelitian mereka. Termasuk goggle tambahan yang dikasih filter merah, untuk mengeluarkan warna-warna asli terumbu karang, karena di dalam laut warna-warna merah cenderung hilang.

Karena tipis kemungkinan divemaster bakal balik sebelum tengah hari, akhirnya diputuskan untuk snorkeling sajahhhh.. Di P. Hoga ini kami sudah ditunggu Pak Hamid dan perahunya, yang akan kami sewa untuk transportasi selama di Wakatobi.

Perahu membawa kami ke spot tidak jauh dari pulau, dan... masya Allah.. gak ada kata-kata untuk menggambarkan terumbu karangnyaaaaa.. Bayangkan semua warna dan warna-warna ajaib yang gak pernah ada di color wheel. Udah? Nah, itu ada semua...! Ungu jreng yang sungguh gak pernah liat, hijo aneh yang swirling-swirling, striking magenta, name anything! Sungguh benaaaar claim itu, spektrum warna terluas!





Kontur lautnya yang berupa wall, bikin frame snorkel mask saya semacam kamera yang menangkap komposisi sempurna rule of third: separuh biru pekat, separuh lagi warna-warni cantik dalam aneka bentuk dan tekstur. Kayaknya ini kondisi saya paling tenang sepanjang sejarah snorkeling. Terapung-apung tanpa mau berpindah tempat, hanya berenang ekstrim pelan, so tranquilled seeing the greatness of Allah who created all these.


Coral Reef photos by Indhira Kinong

Ada area-area yang nampaknya sudah dikavling oleh peneliti, dipasangi semacam kerangkeng besi dan digembok. Terlihat juga jejak-jejak penelitian yang belum selesai, marking, dan buoy-buoy yang menandai spot-spot pengamatan mereka.

Teman saya Soni, bolang asal Wonosobo, pernah bilang kalau saya cuma mau mentas dari laut kalau sudah kesorean atau sudah laper. Bener. Kalo belom dijemput kapal atau diteriakin orang sekapal, gak akan pernah suka rela nyudahin kencan dengan para mahluk laut. Sesi ini diakhiri dengan perahu menjemput saya ke tengah laut, hiahaa..

Wakatobi 034

Kami makan bekal dan sholat di bale bengong tepat di pantai berpasir super putih kayak di film The Mirror Never Lies. Dan itu bikin saya inget, belom kesampean niru adegannya Pakis terapung-apung di laut biru toska. Ketika akhirnya terjadi, Indhi motret saya lagi terapung-apung gitu. Pas saya lihat fotonya ternyata mirip batang kayu di tengah laut, mwahaaa... gak bakal diupload!

Oya, saya gak nyesel-nyesel amat gak jadi peneliti dan kerja di lab gede dan kece di jantung segitiga karang dunia. Karena kami melihat coretan artistik mural para peneliti yang isinya menggambarkan gaya hidup mereka di pulau ini, dan itu sangat jaaaauuuuuh dari aturan Pencipta mereka. Booze, free s**, weed; seems menjadi daily routine mereka. Well, gak jadi envy. Alhamdulillah.

Next:

Seribu Bintang di Langit Kaledupa
(Bermalam di Rumah Pak Hamid)

Comments

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

Kembali Ke Titik Nol

Song"Sajadah Panjang" - Bimbo

"..pertanyaannya adalah, di manakah kita? Ada di mana kita dalam bangunan perjuangan menegakkan keadilan di bumi Allah? Apakah jadi tiangnya? Sekrupnya? Atau sekedar serpih debunya? Bahkan menjadi debunya masih jauh lebih baik ketimbang hanya diam dan menonton.." (Tantular Wirta Sancaya, my dear brother)
...Dalam linangan
air mata
saya menyadari
satuhal... Belasan tahun lalu, kakak saya nomor empat mengatakan ini, ketika gerakan reformasi baru mulai menggeliat. Kalimat ini terngiang kembali di telinga saya, tak berhenti, dalam dua bulan terakhir, ketika saya berjuang menyelesaikan terjemahan sebuah dokumen politik setebal 601 halaman.

Selama ini, saya selalu beranggapan bahwa dalam berjuang di jalan Allah, berjihad, setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Memiliki monumen pahalanya masing-masing. Dan itu tidak mesti bersinggungan langsung dengan label agama. Ketika kita mendedikasikan hidup untuk menyusuri sajadah panjang membentan…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…